16 Tips Agar Anak Mau Mendengarkan Orang Tua Tanpa Harus Diancam

Saat anak tidak mau mendengarkan nasihat orangtua, akhirnya orangtua mengancam anak agar mau menurut. Mengancam anak dinilai sebagai cara paling mudah agar anak mau menurut.

Cara mengancam sebenarnya tidak efektif membuat anak menurut. Ancaman hanya ampuh sesaat saja, tapi tidak untuk jangka panjang.

 Saat anak tidak mau mendengarkan nasihat orangtua 16 Tips Agar Anak Mau Mendengarkan Orang Tua Tanpa Harus Diancam

Orangtua dan Anak | Photo credit: Alamy.com / Fredrick Kippe

Berikut berbagai tips agar anak mau menurut atau mendengarkan orangtuanya:

Tidak Berbicara Saat Anda Sedang Kesal/Emosi
Saat Anda emosi sehingga sulit mengontrol diri, maka tahan diri sementara dari berbicara pada anak.

Saat emosi biasanya sangat sulit untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, selain itu orang yang sedang emosi akan mengeluarkan aura negatif, sehingga semakin sulit perkataannya bisa diterima anak.

Tunggu Momen yang Tepat
Jika anak sedang sangat fokus, asyik dan sibuk pada kegiatannya, percuma saja mengajaknya bicara, hendaknya tunggu sebentar. Barulah ajak anak bicara saat anak tidak terlalu sibuk dengan kegiatannya.

Namanya anak-anak jika sedang asyik-asyiknya bermain jangan langsung diinterupsi, karena kemungkinan besar anak akan mengamuk. Mulailah dengan pendekatan secara perlahan sehingga anak tidak merasa kegiatannya diganggu.

Misalnya ingin mengajak anak makan, maka katakan: “Nak, 15 menit lagi kamu makan ya. Setelah makan, kamu boleh main lagi.” Atau ucapan semisalnya.

Adapun jika anak langsung dihentikan aktivitas bermainnya, kemungkinan besar anak akan menolak dan tidak mau mendengarkan perkataan orangtuanya.

Selain itu, sebelum mengatakan sesuatu pada anak, perhatikan kondisi anak. Apakah mood anak sedang baik atau buruk?

Jika anak sedang marah, ngambek atau cemberut, itu artinya mood anak sedang buruk, kemungkinan besar anak tidak mau mendengarkan perkataan apapun.

Hendaknya tunggu hingga mood (suasana hati) anak membaik. Setelah itu barulah mengajak anak bicara.


Pilihlah Kalimat yang Terdengar Nyaman oleh Anak
Agar anak merasa nyaman ucapkan perkataan secara lembut, selain itu ucapkan kalimat yang mudah dimengerti oleh anak.

Daripada mengatakan: “Kenapa kamu melakukan itu?” lebih baik mengatakan: “Bunda ingin tahu apa yang baru kamu lakukan itu.”

Ucapan “Kenapa kamu melakukan itu?” memiliki kesan memojokan sehingga membuat anak malas atau tidak mau mendengarnya. Adapun kalimat “Bunda ingin tahu apa yang baru kamu lakukan itu.” lebih nyaman terdengar.

Contoh lainnya, daripada mengatakan: “Kamu harus tidur siang,” lebih baik mengatakan, “Kamu, kan, dari pagi capek main. sekarang kayanya enakan tidur siang deh.”

Intinya coba perhalus kalimat yang diucapkan, apalagi jika isi ucapan tentang menyuruh sesuatu, maka orangtua harus pintar-pintar dalam memilih kata.

Hindari sebisa mungkin perkataan yang ada unsur mengancam atau ultimatum (jika tidak darurat-darurat sekali).

Tips Lainnya Agar Anak Mau Mendengarkan Perkataan Orangtua:

  • Kata-kata yang diucapkan pendek atau sederhana sehingga mudah dipahami anak. Adapun kalimat yang berbelit-belit membuat anak malas dan tidak mau mendengarkan.
  • Jika ingin meminta bantuan anak, maka ucapkan kata “tolong” sehingga anak tidak merasa dipaksa saat diperintah.
  • Kenali karakter anak untuk menemukan gaya berkomunikasi yang pas dengannya. Temukan gaya bicara yang cocok untuk katakter anak. Jika Anda memilki beberapa anak, perlu diketahui bahwa masing-masing anak memiliki karakter yang bermacam-macam.
  • Jadilah pendengar yang baik untuk anak, maka anak juga akan menjadi pendengar yang baik untuk orangtuanya.
  • Sebelum mengajak bicara, ajak anak duduk santai bersama sambil menikmati camilan kesukan si anak. Komunikasi akan berjalan dengan baik saat suasana yang hangat.
  • Cari tahu penyebab anak tidak mau mendengarkan. Bisa saja anak saat di sekolahnya sudah capek mengikuti berbagai instruksi, sehingga anak saat pulang ke rumah ingin bebas, hal inilah yang membuat anak cenderung cuek pada perkataan orangtuanya.
  • Tanyakan pada anak apa yang membuatnya malas mendengarkan. Berdiskusilah tentang cara berkomunikasi yang diinginkan anak sehingga mau mendengarkan.
  • Lakukan pendekatan yang penuh kasih sayang sehingga membentuk hubungan positif orangtua dan anak, yang nantinya membuat anak mau terbuka untuk berkomunikasi.
  • Jika orangtua capek menyuruh-nyuruh terus, maka mulai sekarang buatlah aturan keluarga dengan jelas. Sampaikan aturan ini di awal dan pastikan anak paham tentang kewajibannya. Agar adil, jangan membuat aturan untuk anak saja, tapi aturan juga dibuat untuk semua anggota keluarga.
  • Secara umum anak-anak cenderung mau mendengarkan hal-hal yang menurut mereka menyenangkan. Sehingga perhalus isi perkataan agar tidak ada kesan memaksa, menegur, memarahi, memojokan dan mengintrogasi. Disini pentingnya orangtua mengucapkan kata-kata yang terdengar nyaman oleh anak.
  • Jika sikap lembut tidak lagi berguna, orangtua bisa sesekali mengambil tindakan tegas, ini agar anak taat aturan dari perkataan orangtua. Sifat tegas bukan berarti berkata dengan nada tinggi, intinya perkataan yang isinya perintah dengan pengucapan yang jelas. Sikap tegas ini perlu ditunjukan sesekali agar anak merasa segan, dan menyadari kewajibannya untuk mendengarkan nasehat orangtua.
  • Saat berkomunikasi sejajarkan posisi badan dengan anak dan tataplah mata anak, sehingga perhatian anak bisa lebih terfokus untuk menangkap perkataan dari orangtua.
  • Jangan berbicara kepada anak sambil membaca koran atau menggunakan gadget. Hal ini membuat anak merasa dirinya tidak dianggap penting. Anak akan membalas dengan mencueki perkataan orangtua.