Cara Membentuk Karakter Anak Sejak Usia Dini

Pembentukan karakter anak sudah dimulai sejak usia dini. Usia dini merupakan masa paling awal dan fundamental dalam proses tumbuh kembang anak, dimana ini adalah periode emas (golden age) seorang anak sehingga orangtua harus mengoptimalkannya.
Jangan sampai orangtua menyia-nyiakan periode emas anak ini karena pengaruhnya sangat besar terhadap kesuksesan anak di masa depan. Pada masa ini anak mulai peka untuk menerima berbagai rangsangan atau stimulasi, dimana fungsi fisik dan psikis semakin matang sehingga siap merespon stimulasi dari lingkungannya. 
   Pembentukan karakter anak sudah dimulai sejak usia dini Cara Membentuk Karakter Anak Sejak Usia Dini

Photo credit: adobe.com|By Irina Schmidt

Usia dini bisa juga disebut sebagai masa kritis seorang anak. Pada masa ini karakter anak mulai terbentuk, sehingga orangtua harus memberikan stimulasi-stimulasi yang diperlukan anak. Sejak kecil sebenarnya anak sudah bisa berpikir dan menilai segala hal yang dilihat dan didengarnya, hanya saja anak masih belum memiliki pondasi yang kuat untuk membedakan mana yang baik dan buruk.
Anak hanya melakukan dan mengikuti hal-hal yang disenanginya, maka disinilah peran aktif orangtua untuk mengarahkan dan memahamkan anak, yang prosesnya sepanjang waktu. Pembentukan karakter anak tidak bisa secara instan, itu adalah proses panjang, sehingga seharusnya sudah dimulai sejak dini.
Kebiasaan positif. Orangtua jangan pernah malas mengarahkan anak kepada kebiasaan-kebiasaan yang baik, sebab ini pondasi pembentukan karakter. Selain itu peran orangtua sangat besar untuk melindungi anak dari kebiasaan buruk, jangan sampai anak memelihara kebiasaan buruk. Perhatikan kebiasaan-kebiasaan anak, jika ada yang tidak baik segera diluruskan, jangan sampai kebiasaan buruknya dibiarkan sehingga terus terbawa sampai dewasa.


Anak yang sejak kecil tumbuh dengan kebiasaan positif, hal ini akan terus tertanam dengan kuat di dalam jiwanya. Jiwa anak memiliki “alarm alami” untuk terhindar dari kebiasaan dan prilaku buruk. Saat ia tergelincir ke hal yang negatif, maka alam bawah sadarnya akan mengirimkan sinyal bahwa ada sesuatu yang salah atau tidak beres, sehingga ia bisa segera menyadarinya dan melakukan perbaikan.
Memiliki kebiasaan-kebiasaan yang baik sangatlah penting dalam proses pembentukan karakter anak. Selain itu hingga masa remaja dan dewasanya kelak, ia dapat lebih terlindungi dari hal-hal menyimpang, serta lebih mudah menjaga diri. Pada akhirnya karakter anak akan tergantung pada kebiasaannya. Pembiaran orangtua terhadap kekeliruan anak mengakibatkan terbentuknya karakter-karakter buruk dalam diri anak.
Anak adalah peniru ulung, sifat dasar anak ini harus DISADARI oleh semua orangtua, apa yang dilakukan orangtua nantinya anak akan memperhatikan dan menirunya. Jadi jika orangtua memiliki kebiasaan buruk, anak pun akan memilikinya juga. Atau jika orangtua suka marah-marah, maka anak akan tumbuh dengan karakter tempramental, ngambekan bahkan suka teriak-teriak.
Anak cenderung meniru tanpa mengetahui itu baik atau buruk. Perhatikan apa yang anak lihat dan dengar, apa konten video atau bacaan yang dikonsumsi anak? Bagaimana situasi lingkungan bersosial anak? Berhati-hatilah, hal-hal tersebut sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter anak.
Anak juga suka meniru perilaku tokoh kartun idolanya dan menganggap sosok fiksi tersebut begitu penting baginya. Alhasil anak kemungkinan besar meniru gaya dan perilaku karakter idolanya, misalnya pada anak laki-laki suka melakukan gerakan-gerakan yang dilakukan tokoh superheronya. Sebenarnya semua akan baik-baik saja jika tokoh kartun idolanya itu sosok yang baik dan ramah.

Tapi seringkali muncul tokoh kartun yang memiliki prilaku agresif dan berkata kasar, maka orangtua harus aktif memberikan penjelasan ke anak bahwa perbuatan tokoh kartun tersebut tidak tepat. Jika anak suka menonton kartun seperti itu, maka orangtua perlu mengajarkan anak bersikap kritis bahwa tidak semua tokoh kartun perbuatannya boleh ditiru. Anak perlu dibiasakan untuk kritis terhadap segala yang ditontonya, sehingga mencegah anak menelan mentah-mentah segala prilaku buruk atau kebiasaan negatif yang ditampilkan di TV.
Selain itu jangan menonton TV lama-lama, dimana anak-anak yang kecanduan dengan TV ataupun gadget akan berakibat pada tingkat atensinya yang rendah. Adapun jika anak sejak bayi terlalu banyak menonton televisi akan berdampak buruk pada perkembangan bahasa, ingatan dan gangguan atensi.
Jangan terlalu memanjakan anak. Orangtua memang perlu memanjakan anak, karena namanya anak-anak tentu membutuhkan perhatian, kasih sayang dan pemakluman dari orangtuanya. Tapi jangan berlebihan memanjakan anak karena justru berdampak buruk pada tumbuh kembangnya.
Anak-anak yang terlalu dimanja beresiko tinggi memiliki karakter yang buruk. Dimana anak taunya hanya merengek dan terkabul keinginannya oleh orangtuanya, jika hal ini terus-terusan berlangsung maka akan membentuk karakter lemah, egoisme, tidak tahan banting dan mudah putus asa di dalam dirinya.

Mengabulkan semua keinginan anak berdampak serius terhadap perkembangan karakter anak. Jadi jangan sampai karena dalih kasih sayang justru orangtua mengabulkan semua permintaan anak, terlalu memanjakan anak berdampak negatif terhadap karakternya, seperti:
  1. Anak tumbuh dengan karakter yang tidak mandiri. Ini akibat dari anak yang selalu dibantu orang tuanya dalam melakukan berbagai hal, sehingga anak menjadi sangat tergantung.
  2. Anak mudah menyerah, dimana anak tidak memiliki daya juang yang tinggi dalam mengerjakan sesuatu. Itu karena selama ini terlalu diamanja dan tidak mengenal yang namanya perjuangan.
  3. Anak bisa-bisa memiliki karakter suka mengamuk dan pemberontak saat keinginannya tidak dipenuhi oleh orangtuanya.
  4. Orangtua yang selalu menuruti permintaan anak, sehingga anak mendapatkan segala sesuatu dengan mudah tanpa adanya usaha, dampaknya anak tumbuh menjadi orang yang malas berusaha.
  5. Anak memiliki karakter yang kurang bertanggung jawab, dan hal ini bisa terbawa hingga ia dewasa. Karakter anak yang terbentuk sejak kecil biasanya akan tetap melekat hingga dewasa.
Pembentukan karakter anak dimulai dari hal-hal kecil (sederhana). Misalnya dalam berinteraksi, ajarkan anak untuk terbiasa mengucapkan halo, terima kasih, maaf dll. Ini merupakan hal paling dasar untuk membentuk karakter anak sejak dini, sangat penting anak belajar caranya berkomunikasi ke sesama dengan baik dan benar.
Jika anak mengucapkan kata-kata yang tidak pantas maka perlu ditegur. Jika dibiarkan menyebabkan anak menganggap hal itu boleh-boleh saja, merupakan peran vital orangtua untuk mengajari anak mana yang benar dan salah. Menegur dan meluruskan anak merupakan kewajiban, menegur bukan berarti keras dan kelembutan bukan berarti lemah.


Tidak meluruskan kekeliruan anak menyebabkan anak tumbuh dengan karater yang buruk. Pembiaran yang dilakukan orangtua adalah sebuah KRIMINALITAS, dimana anak menjadi korban dari orangtua yang cuek (tidak peduli) dalam proses tumbuh kembang anak.
Jangan membandingkan anak dengan anak lainnya. Seorang anak paling tidak suka jika dirinya dibanding-bandingkan dengan orang lain. Setiap anak adalah unik, itu adalah hal yang harus diketahui semua orangtua. Jika suka dibanding-bandingkan nantinya anak mengira bahwa kehadirannya tidak diinginkan orangtuanya.
Selain itu tumbuh rasa takut, rendah diri, kecemasan dan tidak percaya diri karena anak merasa tidak bisa seperti orang lain. Yang seharusnya dilakukan orangtua adalah memberikan reward atau pujian atas usaha anak, sekalipun hasilnya belum memuaskan. Dengan begitu akan tumbuh rasa semangat tinggi di dalam diri anak.
Dampak buruk suka membanding-bandingkan anak:
  1. Anak bisa stres dan merasa sangat terbebani karena terus dibanding-bandingkan.
  2. Jiwa anak merasa tertekan, gelisah, hingga bisa memicu sulit tidur.
  3. Anak merasa rendah diri dan mulai berpikir bahwa anak-anak lain selalu lebih baik darinya.
  4. Karakter rendah diri bisa menyebabkan anak menghindari interaksi sosial dan lama kelamaan menjadi benci dengan keramaian.
  5. Hilangnya percaya diri anak, itu karena anak sudah berusaha keras mencapai sesuatu tapi justru sering mendapatkan respon negatif. Anak pun mulai mengembangkan pemikiran bahwa berusaha seperti apapun dirinya tidak akan mampu menyaingi orang lain. 
  6. Terbentuknya sifat acuh tak acuh dalam diri anak, dimana anak merasa segala pencapaian dan usahanya selalu diabaikan dan tidak dihargai. Dampaknya anak menjadi cuek, malas-malasan dalam meraih prestasi, dan tidak lagi punya keinginan menyenangkan orangtua.
  7. Anak menjauh dari orangtuanya, dan timbul kebencian dalam dirinya. 
  8. Anak kehilangan kepercayaan pada orangtuanya. Anak mengembangkan pemikiran bahwa orangtuanya sebagai sumber kesakitan bagi dirinya, anak pun mulai menjaga jarak dari orangtuanya. 
  9. Anak juga merasa rapuh dan mengalami gangguan proses tumbuh kembang, serta beresiko memiliki masalah perilaku.


Membandingkan anak dengan yang lainnya dapat merusak kepribadian anak, anak menjadi bingung dengan identitas dirinya sendiri, dan menganggap orang lain selalu lebih baik. Ingatlah bahwa setiap anak itu unik, jadi mereka memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Anak paling benci jika dibanding-bandingkan dengan anak lainnya. 
Pujilah anak saat ia telah berusaha keras, serta hormati bakat dan minat anak. Tugas besar orangtua adalah mengembangkan rasa percaya diri dalam jiwa anak.
Jauhi Label Buruk. Jangan memberikan anak label negatif karena bisa membuat anak percaya bahwa ia memang seperti itu. Beberapa label buruk seperti bodoh, malas, nakal, keras kepala, lemah dll. Jangan pernah melabelkan anak karena itu bisa membuatnya jadi menutup diri, bahkan dapat menghilangkan keinginannya untuk bereksplorasi.
Bersikap maklum terhadap kekurangan anak, janganlah menyatakan kekecewaan dengan cara kasar yang melukai hati anak, apalagi menuduh anak pemalas, tidak kompeten dll. Anak-anak belajar karakter dari apa yang mereka dapatkan, lihat maupun dengar.
Dorong Kemandirian Anak. Ini sangat penting agar terbentuk karakter mandiri dalam jiwa anak. Ajak anak untuk memiliki tanggung jawab, berikan anak beberapa tugas rumah sederhana sehingga di dalam dirinya terbentuk karakter mandiri, biarkan ia menjalankan tugas-tugasnya dengan leluasa tanpa perlu banyak diatur.


Karakter anak berkembang melalui interaksi dengan keluarga, teman maupun masyarakat. Orangtua punya kewajiban untuk mengajarkan dan memberi contoh yang baik pada anak, tunjukan bentuk karakter yang baik dan tanamkan nilai-nilai tersebut pada anak. Jika orangtua punya sikap baik, jujur, adil, amanah, penuh kasih sayang, peduli, menghormati sesama dll maka anak akan meniru karakter baik tersebut.
Kiat lainnya dalam membangun karakter anak:
  1. Menceritakan kisah dan kehidupan para tokoh, merupakan tugas orangtua untuk mengenalkan anak kepada para tokoh besar. Menceritakan kisah kehidupan mereka akan mengajarkan karakter dan moral untuk anak. 
  2. Tunjukan rasa bangga pada anak, sehingga anak merasa dihargai dan keberadaannya diinginkan orangtuanya.
  3. Perlihatkan anak contoh baik yang disaksikannya secara langsung, tempatkan anak di lingkungan yang baik dan kondusif, sehingga anak akan sering melihat orang-orang dengan perilaku yang positif, anak akan mencontoh cara berbicara dan tingkah laku mereka. Lingkungan menjadi faktor terbesar dalam pembentukan karakter anak.
  4. Tunjukan rasa empati sehingga anak akan melihat, mempelajari dan mencontohnya. Jika anak mendapatkan perhatian dari kasih sayang dari orangtuanya maka anak akan memiliki karakter seperti itu juga. Anak akan mengembangkan rasa empati dalam dirinya sehingga ia belajar memahami kondisi orang lain.
  5. Biasakan semua anggota keluarga untuk terbiasa bangun pagi, termasuk anak harus terbiasa bangun pagi (yaitu jam 5 pagi), itu merupakan waktu untuk sekalian menjalani sholat shubuh. Terbiasa bangun pagi akan membentuk karakter disiplin di dalam diri anak.